Skip to main content

Contoh Kerajaan , peninggalan, dan masa kejayaan hindu budha dan islam di indonesia

2.1 Kerajaan Hindu-Buddha
2.1.1 Kerajaan Hindu-Buddha bercorak Hindu
KERAJAAN TARUMANEGARA

Sejarah kerajaan Tarumanegara
Salah satu kerajaan tertua di Pulau Jawa, setelah kerajaan Kutai di Kalimantan adalah Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini berdiri pada abad ke 4 hingga abad ke 7. Menurut sumber, Kerajaan Tarumanegera adalah kerajaan Hindu terbesar di Pulau Jawa Kerajaan Tarumanegara didirikan leh Rajadirajaguru Jayasinghawarman pada tahun 358 M. Raja Jayasinghawarman memimpin pelarian keluarga kerajaan yang berhasil meloloskan diri dari musuh. Di mana kala itu, kerajaan Salakanagara mengalami serangan secara terus menerus. Pada masa pengasingannya, Jayasinghawarman mendirikan kerajaan baru, yang diberi nama Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini didirikan di tepi sungai Citarum, Kabupaten Lebak, Banten. Nama Tarumanegara sendiri diambil dari nama tanaman yang tumbuh subur di tepi sungai Citarum bernama tarum. Tanaman itu dulunya digunakan untuk pewarna benang tenun dan pengawet pakaian. Bukan hanya itu saja, tanaman ini juga merupakan komoditi ekspor terbesar dan sumber pendapatan terbesar di Kerajaan Tarumanegara.
Letak kerajaan Tarumanegara


 Menurut para ahli arkeolog, letak Kerajaan Tarumanegara berada di Jawa Barat di tepi Sungai Cisadane, yang saat ini merupakan wilayah Banten. Kerajaan Tarumanegara berpusat di Sundapura, yang saat ini dikenal sebagai Bekasi.
Wilayah kekuasan Kerajaan Tarumanegara hampir meliputi seluruh wilayah Jawa Barat dan Banten. Bahkan, Kerajaan Tarumanegara juga memiliki pengaruh besar pada kerajaan yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sisilah kerajaan Tarumanegara
Ada beberapa raja – raja Kerajaan Tarumanegara yang pernah memerintah. Berikut ini beberapa daftar raja Kerajaan Tarumanegara yang terkenal
1. Jayasinghawarman
Raja pertama Kerajaan Tarumanegara adalah Jayasinghawarman yang memerintah dari tahun 358 – 382 M sekaligus pendiri Kerajaan Tarumanegara. Jayasinghawarman merupakan seorang maha resi yang berasal dari India, tepatnya adalah Salankayana.
Salakayana mengungsi ke Nusantara karena kerajaannya diserang oleh Kerajaan Magada yang dipimpin oleh Raja Samudragupta. Saat beliau wafat dimakamkan di tepi sungai Gomati di Bekasi.
Pada masa kekuasaan Jayasinghawarma, pusat Kerajaan Tarumanegara dipindahkan dari Rajapura ke Tarumanegera. Rajapura berarti Salankayana atau Kota Perak.
2. Dharmayawarma
Raja selanjutnya adalah Dharmayawarma yang merupakan anak dari Jayasinghawarman. Beliau naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 382 M – 395 M. Tidak banyak sejarah yang mencatatkan dari raja kedua Kerajaan Tarumanegara ini. Hanya saja, namanya masuk dalam Naskah Wangsakerta, yakni naskah yang memuat para raja – raja Kerajaan Tarumanegara.
3. Purnawarman
Purnawarma menjadi raja terkenal di Kerajaan Tarumanegara. Namanya tertulis pada Prasasti di abad ke lima. Selain itu, namanya juga tercatat dalam Naskah Wangsakerta. Beliau memerintah dari tahun 395 M hingga 434 M. Pada masa pemerintahannya, ibukota Kerajaan Tarumanegara dipindahkan menuju Sundapura. Hal inilah yang menjadi asal muasal nama Sunda.
Pada masa kekuasaan Purnawarman, Kerajaan Tarumanegara juga mengalami kemajuan yang sangat pesat. Bahkan, Kerajaan Tarumanegara berhasil menguasai setidaknya 48 kerajaan kecil di bawahnya.
Kekuasaaan Kerajaan Tarumanegara membentang dari Salakanegara atau Rajapura, yang saat ini diperkirakan adalah Telu Lada, Pandeglang hingga Purbalingga, Jawa Tengah.
Pada jaman dulu batas negara dari Kerajaan Tarumanegara adalah Kali Brebes. Setelah masa pemerintahan Raja Purnawarna, Kerajaan Tarumanegara diteruskan oleh anaknya, yakni Wisnuwarma. Kemudian digantikan oleh Indrawarman. Selanjutnya adalah Maharaja Candrawarman.
4. Suryawarman
Raja Suryawarman merupakan raja ke tujuh Kerajaan Tarumanegara. Suryawarman berkuasa selama 26 tahun. Dibandingkan dengan ayahnya Maharaja Candrawarman, kebijakan dari Suryawarman berbeda. Bila Maharaja Candrawarman kekuasan penuh berada pada raja. Namun, Suryawarman lebih memfokuskan pemerintahan pada bagian timur kerajaan.
Hal ini yang membuat didirikannya kerajaan di Kendan, daerah sekitar Bandung dan Limbangan Garut oleh menantunya, Manikmaya. Bahkan, daerah tersebut mengalami perkembangan pesat dikarenakan adanya Kerajaan Galuh yang didirikan oleh cicit Manikmaya pada tahun 612 M.
5. Linggawarman
Linggawarman merupakan raja terakhir dari Kerajaan Tarumanegara. Linggawarman memerintah dari tahun 666 M hingga 669 M. Pada masa itu, Raja Linggawarman tidak memiliki putra sebagai penerus tahta Kerajaan Tarumanegara. Beliau hanya memiliki dua orang puteri, yang bernama Minarsih putri sulungnya dan Sobakancana.
Putri Minarsih menikah dengan Tarusbawa yang menjadi raja pengganti Linggawarman. Sedangkan, Socakancana menikah dengan Daputa Hyang Sri yang menjadi pendiri kerajaan Sriwijaya.
Masa keruntuhan Kerajaan Tarumanegara
Masa keruntuhan Kerajaan Tarumanegara tidak diketahui secara terperinci. Bahkan, dalam prasasti hanya tertuliskan nama Raja Purnawarman. Hal yang memungkinkan akan keruntuhan Kerajaan Tarumanegara adalah saat Raja Linggawarman turun tahta, kepemerintahan dipegang oleh menantunya Tarusbawa.
Sayangnya Tarusbawa naik tahta saat Kerajaan Tarumanegara turun pamor. Seangkan, Tarusbawa ingin menaikan lagi nama besar Kerajaan Tarumanegara. Namun langkah yang diambil malah menyebabkan Kerajaan Tarumanegara hilang.
Pada tahun 670 M, Tarusbawa merubah nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda. Hal ini yang mneyebabkan cicit Manikmaya, Wretikandayun yang merupakan raja Kerajaan Galuh memisahkan diri dari Kerajaan Tarumanegara.
Bahkan, pemisahan ini didukung oleh Kerajaan Kalingga. Sebab, pada masa itu pula, putera mahkota, Sannah menikah dengan Puteri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga. Hal ini menyebabkan Kerajaan Tarumanegara terbagi menjadi dua. Di mana Sungai Citarum sebagai batas kerajaannya
Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara memiliki beberapa peninggalan. Ada 7 prasasti dan beberapa catatan dari luar negeri yang menceritakan Kerajaan Tarumanegara.
1. Prasasti Ciateureun
Prasasti ini ditemukan di sungai Ciateureun, yakni salah satu muara sungai Cisadane Bogor. Prasasti ini juga dikenal dengan nama Prasasti Ciampea. Pada prasasti ini terdapat gambar laba – laba dan telapak kaki Raja Purnawarma. Selain itu, ditemukan juga huruf palawa dan sansekerta.
2. Prasasti Jambu
Prasasti Jambu atau dikenal dengan nama Prasasti Pasir Koleangkak. Pasalnya, prasasti ini ditemukan di bukit Koleangkak, perkebunan jambu. Letaknya yakni 30 km sebelah barat dari kota Bogor. Prasasti ini berisi kebesaran Raja Purnawarman dan gambar telapak kakinya.
3. Prasasti Kebon Kopi
Prasasti ini ditemukan di Bogor, tepatnya Kampung Cibungbulan, Kampung Muara Hilir. Prasasti ini cukup istimewa, sebab terdapat sepasang telapak kaki gajah. Tapak kaki ini digambarkan sebagai tapak kaki Raja Purnawarman. Dalam agama hindu, gajah digambarkan sebagai hewan sakral dan dekat dengan Dewa Wisnu. Konon diibaratkan sebagai Maharaj Purnawarman.
4. Prasasti Muara Cianten
Prasasti ini ditemukan di Bogor. Dalam prasasti ini terdapat tulisan aksara ikal yang belum bisa diterjemahkan. Selain itu, ditemukan juga lukisan telapak kaki.
5. Prasasti Pasir Alwi
Ditemukan didaerah sekitar perbukitan Pasir Alwi, Bojong Honje, Sukamakmur, Bogor.
6. Prasasti Cindanghayang
Dalam masyarakat sekitar, prasasti ini dikenal sebagai prasasti Lebak. Prasasti ini ditemukan di Kampung Lebak. Tepatnya tepi sungai Cindanghian, Kecamatan Manjul, Kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti Lebak ditemukan pada tahun 1947. Dalam prasasti ini berisi puisi dengan huruf pallawa dan bahasa Sansekerta yang menceritakan kebesaran Raja Purnawarman.
7. Prasasti Tugu
Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegera yang terpanjang. Ditemukan di Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta. Prasasti ini dipahat pada batu bulat panjang yang melingkar.
2.1.2 Kerajaan Hindu-Buddha bercorak Buddha
Kerajaan Kalingga

a. Sejarah Berdirinya kerajaan Kalingga
Ho Ling adalah sebutan lain dari Kerajaan Kalingga, berdasarkan catatan dari Tiongkok. Kerajaan ini diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke-6 Masehi.
Wilayah kekuasaan kerajaan kalingga berada di Jawa Tengah, antara Jepara dan Pekalongan. Kalingga pun dianggap sebagai nenek moyang Kerajaan Mataram Kuno. Mari mengenal lebih dekat dengan Kerajaan Kalingga.
Sejarah kerajaan ini diketahui dari sumber catatan sejarah manuskrip, prasasti, cerita rakyat setempat, dan kronik sejarah Tiongkok. Ratu Shima merupakan ratu yang memimpin Kerajaan Kalingga. Catatan dari Tiongkok menjelaskan kalau sejak 674 hingga 732 Masehi, rakyat Kalingga diperintah oleh Ratu Shima.
Ratu ini dikenal sangat adil dan bijaksana. Karena itu kondisi kerajaan ini sangat tentram dan aman. Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Seperti akan memotong tangan seseorang yang terbukti sudah mencuri. Rakyatnya dikenal sangat pandai dalam membuat bunga kelapa dan minuman keras. Komoditi kerajaan ini adalah gading gajah, cula badak, kulit penyu, perak dan emas.
b. Letak dan Wilayah Leluasaan Kerajaan Kalingga

Dari catatan Tiongkok pula diungkapkan kalau letak dan wilayah kekuasaan Kerajaan Kalingga kemungkinan berada di kawasan Pekalongan dan Jepara saat ini. Ibukotanya dikelilingi tembok yang dibangun dari tonggak kayu. Sang raja mendiami bangunan besar bertinggkat tinggi. Atapnya menggunakan palem, sedangkan singgasana sang raja dibuat dari gading.
Jepara dikatakan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Kalingga, sebab terdapat tempat bernama Keling. Sedangkan kawasan Pekalongan dianggap sebagai wilayah kekuasaan Kalingga, karena kerajaan ini dibangun di Pekalongan yang merupakan tempat pelabuhan kuno. Bahkan nama kota ini juga terkait dengan nama Kalingga, yakni Pe-Kaling-an.
c. Silsilah kerajaan Kalingga
Sosok Ratu Shima terkait erat dengan Kerajaan Galuh. Parwati, putri dari Maharani Shima menikah dengan Mandiminyak, putra mahkota dari Kerajaan Galuh. Pangeran ini pun akhirnya naik tahta sebagai raja kedua Kerajaan Galuh. Shima mempunyai cucu yang dikenal sebagai Sanaha. Cucunya ini kemudian menikah dengan Bratasena, sang raja ketiga Kerajaan Galuh.
Bratasena dan Sanaha mempunyai keturunan bernama Sanjaya. Kelak Sanjaya menjadi raja Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Dia memerintah kerajaan tersebut sejak 723 hingga 732 Masehi. Ketika Ratu Shima meninggal dunia pada 732 Masehi, Ratu Sanjaya diangkat sebagai penggantinya. Sehingga dia memerintah Kerajaan Kalingga Utara. Kelak kerajaan ini dikenal sebagai Bumi Mataram. Selanjutnya terbentuklah Dinasti atau Wangsa Sanjaya di kawasan Kerajaan Mataram Kuno.
Kerajaan Holing akhirnya ditaklukkan oleh Kerajaan Sriwijaya pada tahun 752 Masehi. Kalingga dianggap sebagai salah satu bagian jaringan perdagangan Hindu. Sama halnya dengan Tarumanagara dan Melayu yang lebih dulu dikuasai oleh Sriwijaya. Tiga kerajaan itu memang dianggap sebagai pesaing berat dalam jaringan perniagaan Sriwijaya.
d. Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga
Masa kejayaan Kerajaan Kalingga terjadi kala dipimpin oleh Ratu Shima sejak 674 hingga 732 Masehi. Kejujuran dan keadilan sangat di junjung tinggi. Dengan penerapan hukum yang sangat tegas, seperti memotong tangan bagi siapa saja yang terbukti mencuri.
Kaling di Jepara merupakan ibukota Kerajaan Kalingga. Kawasan ini dikenal sangat subur, sehingga rakyatnya banyak mengandalkan dunia pertanian sebagai mata pencahariannya. Bahkan perdagangan hasil buminya sampai ke negeri Tiongkok.
e. Masa keruntuhan Kerajaan Kalingga
Sayangnya, masa kejayaan Kerajaan Kalingga tidak berlangsung lama. Sejak Ratu Shima meninggal dunia dan tahtanya dimiliki keturunannya, mulailah terjadi tanda-tanda kehancuran. Puncaknya kala terjadi serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Jalur perniagaannya direbut, dan rakyat Kalingga harus mengungsi ke pedalaman Pulau Jawa.
f. Peninggalan Kerajaan Kalingga

Bisa dikatakan catatan sejarah terkait Kerajaan Kalingga sangat terbatas. Catatan sejarah pengembara dari zaman Dinasti Tang dan I-Tsing menjadi rujukan utamanya. Selain itu, para ahli juga mengungkap keberadaan kerajaan ini dari berbagai peninggalan, seperti prasasti, arca dan candi. Berikut ini sejumlah peninggalan yang mampu diidentifikasi.
1. Prasasti Tukmas

Prasasti tersebut dijumpai di Kecamatan Grabak, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta tertera pada prasasti tersebut. Pahatan gambar juga terlihat pada prasasti tersebut. Peninggalan ini mengungkapkan kalau terdapat sungai berair jernih di lereng Merapi. Aliran sungainya sangat mirip dengan sungai Gangga yang ada di India.
Sejumlah gambar yang tertera pada prasasti tersebut adalah bunga teratai, kelasangka, cakra, kendi, kapak dan trisula. Nah, dari prasasti ini nampak kalau Kerajaan Kalingga ada hubungannya dengan kebudayaan agama Hindu yang berasal dari India. Memang penemuan prasasti ini relatif jauh dari ibukota Kalingga yang terletak di Jepara. Namun hal itu dianggap sebagai wilayah kekuasaan Kalingga yang sangat luas.
2. Prasasti Sojomerto
Kabupaten Batang menjadi wilayah penemuan prasasti ini. Sojomerto merupakan nama dusun dimana prasasti itu ditemukan. Huruf kawi digunakan pada peninggalan ini, tapi dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno. Karena itu, diprediksi prasasti ini dibuat di abad tujuh Masehi.
Prasasti ini menerangkan keadaan keluarga dari Kerajaan Kalingga. Dapunta Sailendra tertulis sebagai pendiri dari kerajaan tersebut. Sehingga dari penemuan ini disimpulkan kalau pendiri dari Kerajaan Kalingga berasal dari keturunan Dinasti Sailendra, yang merupakan penguasa dari Kerajaan Mataram Kuno.
3. Prasasti Upit
Prasasti ini ditemukan di wilayah Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Penemuan ini menjelaskan adanya kampung upit, yang dibebaskan dari pajak atau daerah perdikan. Kebijakan ini atas anugerah Ratu Shima, sang penguasa Kalingga. Agar bisa dirawat dan dilestarikan, maka prasasti ini ditempatkan di Museum Purbakala yang berada di Prambanan, Klaten.

4. Candi Angin
Selain ketiga prasasti itu, Kerajaan Kalingga juga meninggalkan sejumlah bangunan berupa candi. Salah satunya adalah Candi Angin. Bangunan kuno ini berada di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Penamaan candi ini karena letaknya sangat tinggi. Namun, meskipun terpaan angin begitu kencang yang berlangsung setiap hari, tapi bangunan candinya tetap kokoh dan tidak roboh.
Menurut para ahli, kemungkinan Candi Angin dibangun lebih dulu ketimbang Candi Borobudur. Hal ini disimpulkan dari analisa karbon. Candi ini diprediksi dibangun sebelum masuknya kebudayaan Hindu dan Budha melebur dengan kebudayaan masyarakat Jawa. Karena tidak terdapat ornamen Budha dan Hindu pada candi tersebut.
5, Candi Bubrah
Lokasi Candi Bubrah tidak jauh dari Candi Angin. Sebenarnya penamaan candi ini karena saat ditemukan keadaan bangunannya sudah luluh lantak. Bubrah dalam Bahasa Jawa berarti hancur lebur. Kalau dilihat dari gaya bangunan dan arsitekturnya, maka candi tersebut diprediksi dibangun pada abad kesembilan Masehi. Karena menampilkan corak kebudayaan Budha.
Material yang digunakan dalam membangun candi ini berupa batu andesit. Ukuran candi ini berkisar 12 x 12 meter persegi. Sayangnya, ketika ditemukan bangunan ini hanya menyisakan reruntuhan dengan tinggi hanya berkisar dua meteran saja.
Nah, inilah sekilas sejarah terkait dengan Kerajaan Kalingga. Berbagai peninggalan kerajaan ini sudah pastinya tetap dijaga dengan baik. Sehingga generasi muda tetap bisa mengenal dan mempelajari keberadaan Kerajaan Kalingga.
2.2 Kerajaan islam
Kerajaan samudra pasai


Sejarah Kerajaan Samudra Pasai
Kesultanan Samudra Pasai juga dikenal dengan Samudera, Pasai atau Samudera Darussalam merupakan kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu yang bergelar Malik al-Saleh pada tahun 1267 M dan berakhir pada tahun 1521 yang dikuasai oleh Portugis.
Raja pertama bernama Sultan Malik as-Saleh yang wafat pada tahun 696 H atau 1297 M, kemudian dilanjutkan pemerintahannya oleh Sultan Malik at-Thahir.
Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudera Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah di Samudera Pasai adalah sebagai berikut:

1. Sultan Malik al-Saleh – berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan kerajaannya antar lain melalui perdagangan dan memperkuat angakatan perang. Samudera Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di selat malaka.
2. Sultan Muhammad (Sultan Malik al-Thahir I) – yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa memerintahannya kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan kerajaan Samudera Pasai.
3. Sultan Malik al-Thahir II (1326-1348) – Raja yang bernama Asli Ahmad ini sangat teguh memegan ajaran Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya.
Pada masa pemerintahannya, Samudera Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah dan berdagang di sekitar Samudera Pasai. Namun, setelah muncul kerajaan Malaka, Samudera Pasai memulai memudar. Pada tahun 1522, Samudera Pasai diduduki oleh Portugis.
Keberadaan Samudera Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh kerajaan Aceh yang muncul kemudian. Seorang pengembara Muslim dari Maghribi, Ibnu Bathutah sempat mengunjungi Pasai pada tahun 1346 M, ia juga menceritakan bahwa, ketika ia di Cina, ia melihat adanya kapal Sultan Pasai di negeri Cina.
Memang, sumber-sumber Cina ada menyebutkan bahwa utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi lain juga menyebutkan bahwa, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat pada tahun 1282 M. Ini membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan luar.
Letak Kerajaan Samudra Pasai


Kerajaan Samudera Pasai beribu kota di Pasai. Ibu Kota Pasai sendiri sekarang tidak ada lagi bekas-bekasnya. Kira-kira letak Pasai adalah di sekitar Negeri Blang Me sekarang. (Daliman: 101). Letak kerajaan ini lebih kurang 15 KM di sebelah timur Lhoksumawe, Nanggroe Aceh. (Abdul Haidi: 22). Salah satu sisi Kerarajaan Pasai berbatasan dengan Kerajaan Pirada.
Di sisi lain kerajaan ini berbatasan dengan Negeri Batak. Wilayah Pasai tetbentang di sepanjang pesisir pantai. Perbatasannya yang terletak di pedalaman bersinggungan dengan wilayah Raja Manicopa,  yang memiliki akses ke laut di sisi yang berlawanan. Kedua wilayah ini kerap berperang satu sama lain. (Tome Pires: 201).
Sisilah Kerajaan Samudra Pasai
 Tumbuhnya Kesultanan Samudera Pasai tidak dapat dipisahkan dari letak geografisnya yang senantiasa tersentuh pelayaran dan perdagangan internasional melalui Selat Malaka. Sejak abad VII-VIII para pedagang muslim dari Semenanjung Arabia, Persia, dan negeri-negeri di Timur Tengah lainnya mulai memegang peranan penting.
Turut serta dalam jaringan pelayaran dan perdagangan internasional yang jaraknya lebih jauh yaitu dari Teluk Aden dan Teluk Persia, melalui Samudera Hindia dan Selat Malaka sampai Laut Cina Selatan. Perkembangan jaringan pelayaran dan perdagangan melalui Selat Malaka sejak berabad-abad tersebut disebabkan pula oleh upaya-upaya perkembangan kekuasaan di Asia Barat di bawah Dinasti Umayyah (661 M – 750 M). Asia Timur di bawah Dinasti Tang (618 M – 907 M). Asia Tenggara di bawah Kerajaan Sriwijaya (Abad VII – XIV). (Abdul Haidi: 21-22). Dengan timbulnya Kerajaan Samudera pasai maka Kesultanan Perlak mengalami banyak kemunduran. (Daliman: 105).
Antara tahun 1290 dan 1520 kesultanan Pasai tidak hanya menjadi kota dagang terpenting di selat Malaka, tetapi juga pusat perkembangan Islam dan bahasa sastra Melayu. Selain berdagang, para pedagang Gujarat, Persia, dan arab menyebarkan agama Islam. Sebagaimana disebutkan dalam tradisi lisan dan Hikayat Raja-raja Pasai, raja pertama kerajaan Samudra Pasai sekaligus raja pertama yang memeluk Islam adalah Malik Al-Saleh yang sekaligus juga merupakan pendiri kerajaan tersebut.
Hal itu dapat diketahui melalui tradisi Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Melayu, dan juga hasil penelitian atas beberapa sumber yang dilakukan para sarjana Barat terutama Belanda seperti Snouck Hurgronye, J.P. Molquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain.
Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syaikh Ismail, seorang utusan syarif Makkah yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh. Nisan itu didapatkan di Gampong Samudra bekas kerajaan Samudra Pasai tersebut.
Merah Selu adalah putra Merah Gajah. Nama Merah Gajah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatra Utara. Selu kemungkinan berasal dari kata sungkala yang aslinya juga berasal dari utrid Chula. Kepemimpinannya yang menonjol membuat dirinya ditempatkan sebagai raja.
Dari hikayat itu pula, dijelaskan bahwa tempat pertama yang dijadikan sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah Muara Sungai Peusangan yaitu sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai yang memudahkan perahu-perahu serta kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke pedalaman dan sebaliknya.
Di muara sungai itu ada dua kota yang letaknya berseberangan yaitu Pasai dan Samudra. Kota Samudra terletak agak lebih ke pedalaman, sedangkan Pasai terletek lebih ke muara. Di tempat terakhir inilah banyak ditemukan makam-makam para raja.
Dalam berita Cina dan pendapat Ibn Batutah yang merupakan pengembara terkenal asal Marokko, dari Delhi mengatakan bahwa pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) ia melakukan perjalanan ke Cina. Ketika itu Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Malik Al-Zahir, putra Sultan Malik Al-Saleh.
Menurut sumber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M kerajaan kecil Sa-mu-ta-la (Samudra) mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan nama-nama muslim yaitu Husein dan Sulaiman. Ibnu Batutah juga menyatakan bahwa Islam sudah hampir satu abad lamanya disiarkan di sana. Ia juga meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat keagamaan rajanya yang seperti rakyatnya, yaitu mengikuti mahzab Syafi’i.
Dalam bertinya juga dijelaskan bahwa kerajaan Samudra Pasai pada saat itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan.
Dari uang dirham yang ditemukan di kerajaan ini, dapat diketahui nama-nama raja beserta urutannya, karena dalam mata uang-mata uang yang ditemukan itu terdapat nama-nama raja yang pernah memerintah kerajaan ini. Adapun urutannya adalah sebagai berikut:
1. 1267 – 1297 → Marah Silu Sultan Malik as-Saleh
2. 1297 – 1326 → Sultan Muhammad Malik az-Zahir
3. 1326 – 1345 → Sultan Mahmud Malik az-Zahir
4. 1345 – 1383 → Sultan Ahmad Malik az-Zahir
5. 1383 – 1405 → Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir
6. 1405 – 1412 → Sultanah Nahrasiyah
7. 1405 – 1412 → Sultan Sallah ad-Din
8. 1412 – 1455 → Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir
9. 1455 – 1477 → Sultan Mahmud Malik az-Zahir II
10. 1477 – 1500 → Sultan Zain al-Abidin ibn Mahmud Malik az-Zahir II Sultan Zain al-Abidin II
11. 1501 – 1513 → Sultan Abd-Allah Malik az-Zahir
12. 1513 – 1521  → Sultan Zain al-Abidin III
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Samudra Pasai
Menurunnya peranan kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Di bawah kekuasaan Samudera Pasai, jalur perdagangan di Selat Malaka berkembang pesat. Banyak pedagang-pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat yang berlabuh di Pidie, Perlak dan Pasai.
Pada masa raja Hayam Wuruk berkuasa, Samudera Pasai berada di bawah kendali Majapahit. Walau demikian Samudera Pasai diberi keleluasan untuk tetap menguasai perdagangan di Selat Malaka. Belakangan diketahui bahwa sebagian wilayah dari kerajaan Majapahit sudah memeluk agama Islam. Awal abad 15 M, Samudera Pasai mengirim utusan untuk membayar upeti kepada Cina dengan tujuan mempererat hubungan diplomatik dan mengamankan diri dari serangan kerajaan Siam dari Muangthai.
Pada masa kekuasaan Samudera Pasai, uang dirham sudah dipakai sebagai alat tukar menukar, di salah satu sisi uang tertulis kalimat Sultan yang Adil. Selama kerajaan-kerajaan Islam berkuasa di Indonesia, telah banyak terjadi perlawanan yang dilakukan oleh pihak kerajaan setempat atau “pemberontak” yang tak setuju kaum penjajah Eropa campur tangan terhadap urusan dalam negeri Karena letaknya yang strategis, di Selat Malaka, di tengah jalur perdagangan India, Gujarat, Arab, dan Cina, Pasai dengan cepat berkembang menjadi besar.
Sebagai kerajaan maritim, Pasai menggantungkan perekonomiannya dari pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat kerajaan ini menjadi penghubung antara pusat-pusat dagang di Nusantara dengan Asia Barat, India, dan Cina. Salah satu sumber penghasilan kerajaan ini adalah pajak yang dikenakan pada kapal dagang yang melewati wilayah perairannya.
Berdasarkan catatan Ma Huan yang singgah di Pasai tahun 1404, meskipun kejayaan Kerajaan Samudera Pasai mulai redup seiring munculnya Kerajaan Aceh dan Malaka, namun negeri Pasai ini masih cukup makmur. Ma Huan ini seorang musafir yang mengikuti pelayaran Laksamana Cheng Ho, pelaut Cina yang muslim, menuju Asia Tenggara (termasuk ke Jawa).
Ma Huan memberitakan bahwa kota Pasai ditidaklah bertembok. Tanah dataran rendahnya tidak begitu subur. Pada hanya ditanam di tanah kering dua kali dalam setahun. Lada, salah satu hasil rempah-rempah yang banyak diminati pedagang asing, ditanam di ladang-ladang di daerah gunung. Berita mengenai Samudera Pasai juga didapat dari Tome Pires, penjelajah dari Portugis, yang berada di Malaka pada tahun 1513.
Tome Pires menyebutkan bahwa negeri Pasai itu kaya dan berpenduduk cukup banyak. Di Pasai, ia banyak menjumpai pedagang dari Rumi (Turki), Arab, Persia, Gujarat, Tamil. Melayu, Siam (Thailand), dan Jawa. Begitu pentingnya keberadaan Samudera Pasai sebagai salah satu pusat perdagangan, tak mengherankan bila ibukotanya yang bernama Samudera menjadi nama pulau secara keseluruhan, yaitu Sumatera.
Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Kutai
Telah disebutkan di muka bahwa, Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sebagai kerajaan besar, di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu.
Inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. HRP menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya. Sejalan dengan itu, juga berkembang ilmu tasawuf.
Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas permintaan dari Sultan Malaka. Informasi di atas menceritakan sekelumit peran yang telah dimainkan oleh Samudera Pasai dalam posisinya sebagai pusat tamadun Islam di Asia Tenggara pada masa itu.
Kehidupan Agama Kerajaan Samudra Pasai
Samudera Pasai adalah dua kerajaan kembar yakni Samudera dan Pasai, kedua-duanya merupakan kerajaan yang berdekatan. Saat Nazimuddin al-Kamil (laksamana asal Mesir) menetap di Pasai, kedua kerajaan tersebut dipersatukan dan pemerintahan diatur menggunakan nilai-nilai Islam.
Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan pesisir sehingga pengaruhnya hanya berada di bagian Timur Sumatera. Samudera Pasai berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok di Sumatera, bahkan menjadi pusat penyebaran agama.
Selain banyaknya orang Arab menetap dan banyak ditemui persamaan dengan kebudayaan Arab, atas jasa-jasanya menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara wilayah itu dinamakan Serambi Mekah.
Masa Kejayaan Kerajaan Samudra Pasai
Membahas tentang kejayaan Kerajaan Samudra Pasai dapat kita ketahui dari beberapa isi catatan sejarah yang ada. Dalam catatan Ibn Batutah, ia menjelaskan bahwa berhasil mendarat di tempat yang sangat subur. Kondisi perdagangan di daerah ini sangat maju, ditandai dengan digunakannya mata uang dari bahan emas. Daerah ini merupakan pusat ibu kota dari Kerajaan Samudra Pasai.
Kejayaan Kerajaan Samudra Pasai terjadi pada masa pemerintahan Sultan Malik Tahir, kerajaan ini berkembang menjadi pusat perdagangan Internasional. Kondisi Pelabuhan dipenuhi dengan para pedagang dari berbagai penjuru dunia seperti Asia, Eropa, Cina bahkan Afrika. Kejayaan Samudra Pasai diperoleh dari hasil penggabungan beberapa kerajaan kecil di sekitar daerah tersebut.
Beliau memimpin kerajaan dalam kurun waktu 1297 sampai 1326 Masehi. Tercatat selama abad 13 sampai abad 16, kerajaan ini dikenal sebagai kerajaan yang mempunyai pelabuhan yang sangat sibuk. Saat itu, Samudra Pasai dapat mengekspor lada sekitar 8 ribu sampai 10 ribu bhara setiap tahunnya.
Komoditas lain juga demikian seperti sutera, emas dan kapur barus yang mereka datang kan dari daerah pedalaman. Kemajuan juga ditandai dengan mata uang yang mereka gunakan sebagai alat pembayarannya.
Kerajaan Samudra Pasai juga menjalin hubungan dagang dengan Pulau Jawa. Mereka melakukan tukar menukar hasil komoditas pertanian maupun perkebunan , seperti beras ditukar dengan lada. Selain sebagai pusat perdagangan seperti yang sudah dijelaskan di atas, Kerajaan Samudra Pasai juga menjadi pusat perkembangan agama Islam di Nusantara
Runtuhnya Kerajaan Samudra Pasai
Pada abad ke-15 kerajaan Samudra Pasai kehilangan kekuasaan perdagangan atas Selat Malaka, dan kemudian dikacaukan Portugis pada tahun 1511-20. Akhirnya kerajaan ini dihisab kesultanan Aceh  yang timbul tahun 1520-an. Warisan peradaban Islam internasionalnya diteruskan dan dikembangkan di Aceh.
Hancur dan hilangnya peranan Kerajaan Pasai dalam jaringan antarbangsa ketika suatu pusat kekuasan baru muncul di ujung barat pulau Sumatera, yakni Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan ini muncul pada abad 16 Masehi.
Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah kala itu menaklukkan Kerajaan Pasai sehingga wilayah Pasai dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Islam Darussalam. Kerajaan Islam Samudera Pasai akhirnya dipindahkan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh).
Runtuhnya kekuatan Kerajaan Pasai sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai, tetapi lebih dititikberatkan dalam kesatuan zona Selat Malaka. Walaupun Kerajan Islam Pasai berhasil ditaklukan oleh Sultan Asli Mughayat Syah, peninggalan dari kerajaan kecil tersebut masih banyak dijumpai sampai saat ini di Aceh bagian utara.
Pada tahun 1524 M setelah Kerajaan Aceh Menakhlukan Kesultanan Samudera Pasai tradisi mencetak deurham menyebar keseluruh wilayah Sumatera, bahkan semenanjung Malaka.  Derham tetap berlaku sampai bala tentara Nippon mendarat di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942.
Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Berikut ini terdapat beberapa peninggalan kerajaan samudera pasai, antara lain:
Stempel Kerajaan Samudra Pasai : Stempel ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamata Samudra, Kabupaten Aceh Utara. Stempel ini diduga milik Sultan Muhammad Malikul Tahir oleh Tim peneliti Sejarah Kerajaan Islam.
Cakra Donya : Cakra Donya merupakan lonceng yang berbentuk stupa. Lonceng ini dibuat negeri Cina pada tahun 1409 M. Lonceng tersebut berukuran tinggi 125cm dan lebarnya 75cm.
Naskah Surat Sultan Zainal Abidin : Surat ini merupakan tulisan dari Sultan Zainal Abidin pada tahun 923H atau 1518 Masehi, naskah ini ditujukan kepada Kapitan Moran
Makam : ditemukan beberapa makam raja, salah satunya makam dari Sultan Malik Al Saleh dan terdapat juga makam raja-raja lainnya.



Comments

Popular posts from this blog

31 Jenis potongan sayuran boga dasar, Jardiniere, juliene, bronoise, macedoine, allumate, paysane, chiffonade,

1. Jardiniere Potongan Jardiniere adalah potongan sayur yang  memiliki ukuran 3cm x 1cm x 1cm. Biasanya digunakan dalam hidangan steak / maincourse dan bisa juga digunakan sebagai hiasan contohnya oxtail jardiniere. Sayuran yang dipotong dengan potongan seperti ini biasanya adalah wortel, lobak, dan kentang. 2. Juliene Potongan juliene adalah potongan sayur yang memiliki ukuran 30mm x 1mm x 1mm. Potongan ini digunakan sebagai hiasan (garnish) atau juga bisa dijadikan bahan tambahan untuk membuat nasi goreng. Potongan ini diterapkan pada daging seperti: ham atau lidah, dan sayuran seperti: daun bawang, kol, bawang bombay 3. Brunoise Potongan Brunoise adalah potongan sayur yang berbentuk kubus dengan ukuran 1mm x 1mm x 1mm, ini biasanya digunakan dalam isian roughut. Sayuran yang dipotong dengan potongan seperti ini biasanya adlah wortel, bawang bombay, lobak, dan seledri. 4. Macedoine Potongan Cube adalah potongan sayur yang memiliki ukuran 1cm x 1cm x 1cm. Po...

Contoh makalah boga dasar tentang metode dasar pengolahan bahan makanan untuk kelas X smk

KATA PENGANTAR  Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan buku makalah Boga Dasar mengenai Teknik Dasar Pengolahan Makanan untuk Sekolah Menengah Kejuruan Jasa Boga dengan baik. Makalah ini disusun berdasarkan tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan kurikulum 2013, makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu sumber belajar siswa SMK dalam mencapai standar kompetensi keahlian yang diharapkan dunia kerja. Hal ini sesuai dengan tujuan SMK untuk menyiapkan peserta didik atau lulusan yang siap memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan sikap profesional di bidang kejuruan. Makalah ini membahas tentang Teknik Dasar Pengolahan Makanan yaitu metode pengolahan yang digunakan pada berbagai macam hidangan dan tergantung bahan yang digunakan atau dari resep hidangan itu, yang dimaksud adalah metode panas basah dan metode panas kering. Materi dalam makalah ini disajikan dengan ringkas, padat, dan denga...

Teknik Pengolahan bahan makanan Panas Basah dan Panas Kering dalam Tata boga

Pengolahan bahan makanan  Metode Panas Basah Teknik pengolahan dengan metode panas basah adalah penghataran panas pada bahan makanan melalui bahan cair. Ada beberapa metode yang menggunakan metode panas basah, yaitu: a. Merebus(Boiling) Merebus adalah memasak bahan makanan dalam cairan sampai titik didih(100°C). Cairan yang digunakan dapat berupa air atau kaldu. Alat yang digunakan pada umumnya yaitu panci tertutup, centong(ladle) dan sendok kayu untuk mengaduk. Bahan makanan yang dapat diolah dengan teknik merebus adalah: • Sayuran Sayuran dimasukkan di dalam air mendidih yang terlebih dahulu diberi garam. Saat proses boiling berlangsung biarkan panci tetap terbuka, sehingga warna sayur tetap hijau atau segar. Jika sayur telah matang, segera masukan ke dalam air dingin. Hal ini dilakukan untuk menghentikan proses pematangan lebih lanjut dan menjaga sayur supaya tidak over cooking. Kriteria hasil sayuran dengan metode boiling adalah empuk atau lembut, warna tetap hijau ...